Businesslifes.com – Tepat satu tahun telah berlalu sejak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024. Setahun pertama adalah periode krusial yang menjadi fondasi sekaligus tolok ukur arah kebijakan sebuah pemerintahan baru. Di tengah tantangan ekonomi global, dinamika politik domestik, dan ekspektasi publik yang tinggi, pemerintahan ini telah melewati 365 hari pertamanya dengan serangkaian kebijakan, pencapaian, serta sejumlah catatan kritis.
Artikel ini menyajikan sebuah rapor komprehensif, mengupas tuntas kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran di berbagai sektor kunci: dari stabilitas ekonomi makro, realisasi program unggulan seperti makan siang gratis, tantangan di sektor kedaulatan pangan, hingga sorotan di bidang politik dan hukum.
Perekonomian: Menjaga Stabilitas di Tengah Tantangan Utang dan Lapangan Kerja ๐น
Sektor ekonomi menjadi fokus utama sekaligus tantangan terberat di tahun pertama. Diwarisi kondisi ekonomi yang relatif stabil, tugas utama pemerintahan adalah menjaga momentum pertumbuhan sambil mengelola risiko fiskal dan global.

Pertumbuhan PDB, Inflasi, dan Nilai Tukar Rupiah
Di bawah kepemimpinan baru, perekonomian Indonesia menunjukkan resiliensi. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berhasil dijaga di kisaran 5%, ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat dan mulai pulihnya investasi. Tingkat inflasi juga relatif terkendali di bawah angka 3,5%, berkat koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Namun, tantangan signifikan datang dari nilai tukar Rupiah. Penguatan Dolar AS secara global memberikan tekanan pada mata uang Garuda, yang sempat beberapa kali menyentuh level psikologis Rp 16.000. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu pekerjaan rumah utama yang menuntut intervensi kebijakan yang cermat.
Tantangan Utang dan Defisit Anggaran
Salah satu sorotan paling tajam dari para ekonom adalah mengenai kebijakan fiskal. Untuk membiayai program-program ambisius, termasuk program makan siang gratis, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara meningkatkan rasio utang atau melakukan realokasi anggaran. Defisit anggaran tahun 2025 tercatat sedikit melebar, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang.
Catatan Kritis Angka Pengangguran
Meskipun pertumbuhan ekonomi terjaga, sektor ketenagakerjaan masih menjadi catatan kritis. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih berada di atas angka 5%. Kalangan pengusaha menyoroti adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara keahlian lulusan baru dengan kebutuhan industri. Penciptaan lapangan kerja berkualitas yang mampu menyerap angkatan kerja baru masih menjadi tantangan besar yang harus dijawab di tahun-tahun mendatang.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Selasa, 21 Oktober 2025 Ditutup Menguat ke 8.220, Saham BBCA Borong Asing
Program Unggulan: Realisasi dan Kontroversi ๐ฝ๏ธ
Pemerintahan Prabowo-Gibran identik dengan beberapa program unggulan yang menjadi janji utama selama kampanye. Realisasi program-program ini menjadi tolok ukur komitmen mereka.

Program Makan Siang dan Susu Gratis
Program ini tidak diragukan lagi adalah yang paling disorot. Setelah melalui serangkaian kajian dan uji coba di beberapa daerah, program ini mulai diimplementasikan secara bertahap pada pertengahan tahun 2025, menyasar siswa sekolah dasar di daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi.
- Dampak Positif: Laporan awal menunjukkan adanya peningkatan gizi dan antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Program ini juga menciptakan efek domino ekonomi dengan melibatkan UMKM dan warung lokal sebagai penyedia makanan.
- Tantangan dan Kontroversi: Tantangan terbesar terletak pada pendanaan dan logistik. Anggaran yang masif untuk program ini menjadi sumber perdebatan sengit mengenai alokasi APBN. Selain itu, memastikan kualitas, distribusi, dan ketepatan sasaran di seluruh nusantara adalah pekerjaan rumah logistik yang sangat kompleks.
Kelanjutan Hilirisasi dan Proyek IKN
Pemerintahan ini menunjukkan komitmen kuat untuk melanjutkan program hilirisasi sumber daya alam yang telah dimulai oleh pemerintahan sebelumnya. Fokusnya adalah pada nikel, bauksit, dan tembaga untuk meningkatkan nilai tambah ekspor. Di sisi lain, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur juga terus dikebut, dengan beberapa kantor kementerian dan lembaga negara mulai beroperasi secara bertahap di ibu kota baru.
Kedaulatan Pangan: Antara Ambisi dan Realita Impor ๐พ
Sektor pangan menjadi salah satu prioritas utama, dengan ambisi mencapai swasembada untuk beberapa komoditas kunci. Namun, realita di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak mudah.
Produksi beras domestik sempat mengalami sedikit penurunan akibat dampak perubahan iklim El Niรฑo di awal tahun, yang membuat pemerintah terpaksa membuka keran impor untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan. Kebijakan ini menuai kritik dari sebagian kalangan yang menilai pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengatasi masalah struktural di sektor pertanian, seperti modernisasi alat, irigasi, dan kesejahteraan petani. Harga beberapa bahan pokok seperti cabai dan bawang juga sempat mengalami gejolak signifikan.
Politik, Hukum, dan Demokrasi: Arah dan Catatan Kritis ๐๏ธ
Di bidang politik, tahun pertama ditandai dengan upaya Prabowo membangun koalisi besar di parlemen untuk memastikan stabilitas dan kelancaran program pemerintah. Gaya kepemimpinannya yang tegas dan pragmatis terlihat dalam beberapa pengambilan keputusan strategis.
Namun, dari sisi hukum dan demokrasi, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) memberikan catatan kritis. Beberapa revisi undang-undang dianggap terburu-buru dan kurang melibatkan partisipasi publik. Selain itu, para aktivis juga menyoroti masih adanya tantangan dalam penegakan hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi. Menjaga keseimbangan antara stabilitas politik dan kesehatan demokrasi menjadi salah satu ujian penting bagi pemerintahan ini.
Hubungan Internasional dan Pertahanan ๐
Sesuai dengan latar belakangnya, Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar pada sektor pertahanan dan hubungan internasional. Kebijakan luar negeri Indonesia tetap berpegang pada prinsip “bebas aktif,” namun dengan penekanan yang lebih kuat pada diplomasi pertahanan.

Sejumlah kontrak pengadaan alutsista (alat utama sistem senjata) modern, seperti pesawat tempur dan kapal perang, dilanjutkan dan dipercepat. Dalam forum-forum internasional, Indonesia mengambil posisi sebagai penengah yang netral dalam berbagai konflik global, sambil terus memperkuat hubungan strategis dengan negara-negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara di kawasan ASEAN.
Kesimpulan: Fondasi Telah Diletakkan, Tantangan Menanti di Depan
Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran telah meletakkan fondasi awal bagi arah kebijakan lima tahun ke depan. Keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi makro patut diapresiasi. Komitmen untuk memulai realisasi janji kampanye utama juga menunjukkan keseriusan pemerintah.
Namun, rapor ini juga diwarnai sejumlah catatan merah yang tidak bisa diabaikan. Tantangan di sektor ketenagakerjaan, pengelolaan utang negara, stabilitas harga pangan, serta menjaga kualitas demokrasi adalah pekerjaan rumah besar yang menanti di tahun kedua. Keseimbangan antara mengejar program-program ambisius dengan menjaga kesehatan fiskal dan ruang demokrasi akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan Prabowo-Gibran di masa mendatang.

